pertarungan tanpa kesulitan yang berarti telah dilakoni liverpool di kandangnya. unggul 6-1 melawan si harimau tua, hull city, liverpool membuktikan bahwa mereka masih layak masuk hitungan dalam jajaran the big four. Man of the match dalam laga tsb rasanya pantas di berikan kepada striker muda asal spanyol F. Torres.
Torres berhasil menyumbangkan tiga gol dari umpan2 para pemain gelandang yg berhasil di eksekusi dgn cantik.
Selain Torres, sang kapten Gerrard juga menyumbangkan sebuah gol. Gol yg tercipta dri tendangan kaki kanan Gerrard di luar kotak penalti.
Babel yg diturunkan di babak ke dua menggantikan Torres juga berhasil mengoleksi dua gol.
Berbeda dengan liverpool yg tengah berada di atas angin, Hull city kini harus tercecer di klasemen bawah. Dan bayangan zona degradasi membuat sang harimau harus segera berbenah diri.
26 September 2009
Liverpool vs hull city
Pertandingan sudah berjalan 27 menit dengan skor 2-1 untuk keunggulan the red's. El nino berhasil mencetak gol keduanya dalam laga ini.
Manchester united vs stoke city
Laga liga inggris kembali bergulir di pekan yang kelima. Salah satu pertandingan yang tidak boleh di lewatkan adalah pertarungan antara MU VS STOKE CTY. Setelah berhasil melumat tetangganya pekan lalu, ManCY, apakah minggu ini si setan merah mampu melakukannya?
Liverpool vs hull city
Menjamu sang harimau, liverpool turun dengan skuad utamanya. Dengan hanya bercokol di urutan ke 3 klasemen premier league,ini bukan saatnya bagi liverpool untuk melewatkan setiap pertandingan tanpa memetik poin penuh. Saat ini, pertarungan semakin memanas manakala skor saat ini imbang 1-1.
07 September 2009
TARI PENDET MILIK BANGSA KITA
Serempak alunan musik, lenggak lenggok penari dengan lentikan jari yang lembut ditambah mata sang penari yang membulat indah merupakan salah satu ciri khas tari pendet. Tari pendet yang beberapa waktu lalu digunakan oleh Negara Malaysia sebagai iklan bagi pariwisata Negara Malaysia.
Tentu saja aksi Malaysia yang menggunakan tari pendet di dalam iklan pariwisata mereka menuai protes dan menyulut amarah warga Negara Indonesia. Apalagi tindak pengklaiman Malaysia terhadap budaya Indonesia bukan kali pertama ini terjadi.
Pihak pembuat iklan Enycmatic Malaysia ini sendiri berdalih bahwa itu bukanlah iklan pariwisata Malaysia melainkan sebuah film dokumenter yang menceritakan sejarah batik dan memasukkan tari pendet di dalamnya. Hal ini diungkapkan dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi Nasional.
Masalahnya kemudian adalah Mengapa pihak si pembuat film dokumenter itu tidak meminta izin terlebih dahulu kepada Pemerintah Indonesia dalam hal ini Menteri Pariwisata, Jero Wacik perihal tayangan tarian pendet yang telah ditayangkan di Discovery Channel Malaysia itu.
Menanggapi pernyataan tersebut, pihak pembuat hanya mengutarakan ketidaktahuannya terhadap perizinan tersebut.
Aksi protes dan rasa marah warga Negara Indonesia tentulah beralasan. Ini bukanlah kali pertama Malaysia melakukan pengklaiman budaya milik Indonesia. Sebelumnya Malaysia juga sempat mengklaim Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange.
Jika ulah Malaysia ini terus berlanjut, maka tidak mustahil hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia dapat terancam. Aksi unjuk rasa yang menuntut pemerintah Indonesia agar segera memutus hubungan diplomatik dengan Malaysia bahkan telah terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Kasus pengklaiman Malaysia terhadap tari pendet ini dapat mengingatkan kita bahwa budaya Indonesia, budaya milik bangsa kita membutuhkan perhatian dan apresiasi dari berbagai pihak dan kalangan. Tidak tidak hanya perlu mempatenkan ke UNESCO tetapi kita, sebagai warga Negara Indonesia harus memperkenalkan budaya kita ke dunia luar. Menjaga serta melestarikannya. Tidak hanya tari pendet, budaya yang lain pun demikian. Kita tidak perlu menunggu pihak Malaysia mengklaim budaya kita lagi untuk kemudian dipatenkan.
Jika pahlawan berjuang merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah, maka kita sebagai warga Negara Indonesia harus berjuang mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para pejuang budaya kita.
Ingat, Tari Pendet Milik Bangsa kita dan hanya akan menjadi milik bangsa Indonesia.
Tentu saja aksi Malaysia yang menggunakan tari pendet di dalam iklan pariwisata mereka menuai protes dan menyulut amarah warga Negara Indonesia. Apalagi tindak pengklaiman Malaysia terhadap budaya Indonesia bukan kali pertama ini terjadi.
Pihak pembuat iklan Enycmatic Malaysia ini sendiri berdalih bahwa itu bukanlah iklan pariwisata Malaysia melainkan sebuah film dokumenter yang menceritakan sejarah batik dan memasukkan tari pendet di dalamnya. Hal ini diungkapkan dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi Nasional.
Masalahnya kemudian adalah Mengapa pihak si pembuat film dokumenter itu tidak meminta izin terlebih dahulu kepada Pemerintah Indonesia dalam hal ini Menteri Pariwisata, Jero Wacik perihal tayangan tarian pendet yang telah ditayangkan di Discovery Channel Malaysia itu.
Menanggapi pernyataan tersebut, pihak pembuat hanya mengutarakan ketidaktahuannya terhadap perizinan tersebut.
Aksi protes dan rasa marah warga Negara Indonesia tentulah beralasan. Ini bukanlah kali pertama Malaysia melakukan pengklaiman budaya milik Indonesia. Sebelumnya Malaysia juga sempat mengklaim Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange.
Jika ulah Malaysia ini terus berlanjut, maka tidak mustahil hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia dapat terancam. Aksi unjuk rasa yang menuntut pemerintah Indonesia agar segera memutus hubungan diplomatik dengan Malaysia bahkan telah terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Kasus pengklaiman Malaysia terhadap tari pendet ini dapat mengingatkan kita bahwa budaya Indonesia, budaya milik bangsa kita membutuhkan perhatian dan apresiasi dari berbagai pihak dan kalangan. Tidak tidak hanya perlu mempatenkan ke UNESCO tetapi kita, sebagai warga Negara Indonesia harus memperkenalkan budaya kita ke dunia luar. Menjaga serta melestarikannya. Tidak hanya tari pendet, budaya yang lain pun demikian. Kita tidak perlu menunggu pihak Malaysia mengklaim budaya kita lagi untuk kemudian dipatenkan.
Jika pahlawan berjuang merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah, maka kita sebagai warga Negara Indonesia harus berjuang mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para pejuang budaya kita.
Ingat, Tari Pendet Milik Bangsa kita dan hanya akan menjadi milik bangsa Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)